Jumat, 30 Desember 2016
Pembentukan dan Teori Sikap
Pembentukan Sikap
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap, yaitu:
1. Pengalaman pribadi
a. Dasar pembentukan sikap: pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat
b. Sikap mudah terbentuk jika melibatkan faktor emosional
2. Kebudayaan
a. Pembentukan sikap tergantung pada kebudayaan tempat individu tersebut dibesarkan
b. Contoh pada sikap orang kota dan orang desa terhadap kebebasan dalam pergaulan
3. Orang lain yang dianggap penting (Significant Others)
a. yaitu: orang-orang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah laku dan opini kita, orang yang tidak ingin dikecewakan, dan yang berarti khusus
b. Misalnya: orangtua, pacar, suam atau isteri, teman dekat, guru, pemimpin
c. Umumnya individu tersebut akan memiliki sikap yang searah (konformis) dengan orang yang dianggap penting.
4. Media massa
a. Media massa berupa media cetak dan elektronik
b. Dalam penyampaian pesan, media massa membawa pesan-pesan sugestif yang dapat mempengaruhi opini kita
c. Jika pesan sugestif yang disampaikan cukup kuat, maka akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal Æ hingga membentuk sikap tertentu.
5. Institusi / Lembaga Pendidikan dan Agama
a. Institusi yang berfungsi meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu
b. Pemahaman baik dan buruk, salah atau benar, yang menentukan sistem kepercayaan seseorang Æ hingga ikut berperan dalam menentukan sikap seseorang.
6. Faktor Emosional
a. Suatu sikap yang dilandasi oleh emosi yang fungsinya sebagai semacam penyaluran frustrasi atau pengalihan bentuk mekanisime pertahanan ego.
b. Dapat bersifat sementara ataupun menetap (persisten/tahan lama)
c. Contoh: Prasangka (sikap tidak toleran, tidak fair).
Teori Tentang Sikap
1. Teori Keseimbangan
- Fokus: upaya individu untuk tetap konsisten dalam beersikap dalam hidup
- Teori keseimbangan dalam bentuk sederhana:
- Melibatkan hubungan-hubungan antara seseorang dengan dua objek sikap. Ketiga elemen tersebut dihubungkan dengan:
Sikap favorable (baik, suka, positif)
Sikap unfavorable (buruk, tidak suka, negatif)
- Pembentukan sikap tersebut dapat dapat seimbang atau tidak seimbang
- Hubungan afeksi dapat menghasilkan sistem yang tidak seimbang menjadi seimbang.
2. Teori Konsistensi Kognitif-Afektif
- Fokus: bagaimana seseorang berusaha membuat kognisi mereka konsisten dengan afeksinya
- Penilaian seseorang terhadap suatu kejadian akan mempengaruhi keyakinannya.
- Contoh: tidak jadi makan di restoran X karena temannya bilang bahwa restoran tersebut tidak halal Æ padahal dia belum pernah makan disana
3. Teori Ketidaksesuaian (Dissonance Theory)
- Fokus: individu; menyelaraskan elemen-elemen kognisi, pemikiran atau struktur (Konsonansi : selaras).
- Disonansi : ketidakseimbangan, yaitu pikiran yang amat menekan dan memotivasi seseorang untuk memperbaikinya.
- Terdapat dua elemen kognitif; dimana disonansi terjadi jika Æ kedua elemen tidak cocok sehingga menggangu logika dan pengharapan
- Misalnya: ”Merokok membahayakan kesehatan”
konsonansi dengan ”saya tidak merokok”; tetapi disonansi dengan ”perokok”.
- Cara mengurangi Disonansi:
a. Merubah salah satu elemen kognitif, yaitu dengan mengubah sikap agar sesuai dengan perilakunya. Misalnya : stop merokok
b. Menambahkan satu elemen kognitif baru. Misalnya: tidak percaya rokok merusak kesehatan
4. Teori Atribusi
- Fokus: individu mengetahui akan sikapnya dengan mengambil kesimpulan dari perilakunya sendiri dan persepsinya tentang situasi.
- Implikasinya adalah perubahan perilaku yang dilakukan seseorang menimbulkan kesimpulan pada orang tersebut bahwa sikapnya telah berubah.
- Contoh: memasak setiap ada kesempatan Æ baru sadar kalau dirinya suka menyukai / hobi memasak
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar