- Kognisi sosial merupakan pendekatan dalam psikologi sosial yang berfokus pada kognisi (pikiran) dipengaruhi oleh konteks sosial yang lebih luas dan kognisi yang mempengaruhi perilaku sosial.
- Kognisi adalah proses yang menghubungkan
peristiwa-peristiwa diluar (lingkungan) dan di dalam (diri sendiri)
- Kognisi adalah proses mengubah, mereduksi,
memperinci, menyimpan, mengungkapkan, dan menggunakan setiap input
(informasi) yang diperoleh melalui alat indera.
Konsep dalam Kognisi Sosial, yaitu:
1. Impresi
a)
Orang-orang menghabiskan waktu
untuk berpikir tentang orang lain. Kita membentuk kesan dari orang yang kita
temui.
b)
pembentukan kesan dan persepsi orang merupakan
aspek penting dari kognisi sosial (Schneider, Hastorf 8c Ellsworth, 1979).
Impresi dipengaruhi
oleh:
1)
Personal
construct : pembentukan persepsi seseorang dari waktu ke waktu
2)
Penampilan
fisik
3)
Stereotipe
4)
Social
judgment
2. Skema & kategori
1. Menurut
Taylor (2009) skema merupakan seperangkat tatanan struktur pengetahuan atau
pemahaman mengenai beberapa konsep atau stimulus.
2. Skema berisi pengetahuan tentang konsep atau stimulus,
relasi antar berbagai pemahaman tentang konsep dan contoh-contoh spesifiknya.
3. Skema dapat berupa skema tentang orang tertentu, peran
sosial atau diri sendiri, sikap terhadap obyek tertentu, stereotipe tentang
kelompok tertentu, atau persepsi tentang kejadian umum.
3. Social encoding
mengacu pada proses
dimana rangsangan sosial eksternal direpresentasikan dalam pikiran individu.
Ada beberapa tahap untuk proses ini (Bargh, 1984):
1)
Pre-attentive
analysis - pemindaian umum,
otomatis dan non-sadar lingkungan.
2)
Focal
attention - sekali melihat, rangsangan secara sadar
diidentifikasi dan dikelompokkan.
3)
Comprehension - stimuli diberi makna semantik.
4)
Elaborative
reasoning - stimulus
semantik mewakili terkait dengan pengetahuan lain untuk memungkinkan adanya
kesimpulan yang kompleks.
Jelas, proses encoding sosial sangat tergantung pada apa yang menangkap perhatian kita.
Jelas, proses encoding sosial sangat tergantung pada apa yang menangkap perhatian kita.
4. Disonansi (Kejanggalan) Kognitif
Menurut Festinger,
(1957) Disonansi kognitif dapat terjadi karena :
- Inkonsistensi logis : merokok tidak baik, tapi
tetap merokok)
- Nilai-nilai budaya : fenomena kanjeng dimas
- Pendapat umum : Mengadopsi anak sebagai
"pancingan" supaya nanti bisa hamil
- Pengalaman masa lalu : trauma dengan orang lain/ kelompok/situasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar