Jumat, 30 Desember 2016

Dampak Positif dan Negatif Full Day School


Full day school adalah pemberian jam tambahan. Pada  jam tambahan ini siswa tidak lagi berhadapan dengan mata pelajaran yang membosankan. Kegiatan yang dilakukan setelah selesainya KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) adalah ekstrakurikuler (ekskul) yang diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai karakter pada diri siswa seperti disiplin, jujur, cinta tanah air, dan toleransi.

Dampak positif Full Day School:
  1. Waktu setelah Jam Belajar dapat Digunakan untuk Kegiatan Positif

    Biasanya, setelah pulang sekolah anak akan bermain atau melakukan hal yang dirasa kurang bermanfaat. Tapi dengan adanya full day school, setelah jam belajar akan diisi kegiatan yang bermanfaat, seperti mengaji, olahraga, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.
  2. Menghindari Kemacetan di Kota-kota

    Biasanya di kota besar sering terjadi kemacetan di jam-jam pulang anak sekolah, yaitu sekitar jam 11 dan 14, belum lagi ini adalah watu istirahat para pekerja. Setidaknya dengan full day school, kemacetan di jam ini dapat ditiadakan.
  3. Murid akan Memiliki Banyak Waktu Libur Bersama Keluarga

    Full day school memberikan waktu libur sebanyak dua hari, yaitu Sabtu dan Minggu. Di hari libur ini, para murid dapat menghabiskan waktu dengan keluarga.
  4. Program ini bisa Berjalan, karena Sudah Pernah Diterapkan

    Sebenarnya, program seperti ini sudah diterapkan di sekolah-sekolah swasta di kota besar. Hanya saja belum seluruh sekolah menerapkannya. 
  5. Membantu Orang Tua

    Karena full day school mengharuskan anak berada di sekolah hampir seharian, itu artinya orang tua yang bekerja di kantor dapat tenang karena anaknya berada dalam pengawasan sekolah. Para orang tua juga tidak disibukkan dengan kegiatan antar jemput anak yang mengganggu jam kantor.

Dampak negatif Full Day School :
  1. Penerapannya tidak bisa sama rata

    Kehidupan di perkotaan dan pedesaan sangat berbeda, di pedesaan juga para orang tua tak banyak yang bekerja di kantor, kebanyakan yang bekerja adalah para ayah. Selain itu, tingkat kriminalitas di pedesaan juga rendah, sehingga penculikan anak juga jarang terjadi. Oleh karena itu, penerapan full day school tidak bisa disama ratakan.
  2. Murid Kekurangan Waktu Bersama Keluarga

    Lima hari dalam seminggu para murid harus berada di sekolah hampir seharian penuh. Sampai di rumah, kemungkinan sudah malam. Dan mereka akan istirahat lalu tidur. Interaksi antaran anak dengan orang tua jadi berkurang dan ini menyebabkan hubungan antara orang tua dan anak kurang dekat.
  3. Orang Tua Semakin Melepas Tanggung Jawab

    Karena waktu anak di sekolah lebih lama daripada di rumah, orang tua jadi menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anak kepada guru. Padaha, orang tua memiliki andil besar dalam kesuksesan sang anak.
  4. Para Murid akan Mengalami Stres

    Murid dapat mengalami stres karena belajar terus menerus. Apalagi dari pagi hingga sore, mereka akan berada di sekolah, belajar, bertemu dengan guru dan siswa lain yang mungkin bagi sebagian anak membuatnya jenuh. Tak dapat dipungkiri jika mereka mengalami stres.
  5. Tidak Semua Sekolah Memiliki Fasilitas yang Memadai

    Untuk melancarkan program full day school, sekolah perlu dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti tempat bermain, tempat praktek kegiatan tertentu. Jika hanya ruang kelas saja, tentu anak akan merasa bosan. Sekolah pasti juga membutuhkan biaya lebih untuk melengkapi fasilitas ini.

Pengaruh Gadget Bagi Tumbuh Kembang Anak

Pada zaman modern seperti saat ini, anak-anak sudah mengenal dan bahkan mahir dalam menggunakan gadget. Dalam hal ini tentunya peran penting orangtua sangat dibutuhkan untuk bersikap bijak dalam memberikan alat komunikasi tersebut. Jika digunakan dengan bijak maka gadget akan bermanfaat sebagai media pembelajaran untuk anak. Namun jika penggunaannya tidak terkontrol maka pengaruh gadget sangat berbahaya untuk kesehatan dan tumbuh kembang si kecil.
Dalam menyikapi perkembangan zaman dan teknologi pada saat ini, setiap orangtua hendaknya mengetahui waktu yang tepat untuk memberikan gadget pada anak. Selain itu, orangtua juga hendaknya memberikan batasan pada anak dalam menggunakan gadget sehingga tidak menjadi ketergantungan yang akan memberikan dampak negatif terhadap tumbuh kembangnya.
Dampak-dampak teknologi bagi perkembangan anak, adalah :

Dampak positif
1.        Menambah Pengetahuan
Dengan menggunakan gadget yang berteknologi canggih, anak-anak dengan mudah dan cepat untuk mendapatkan informasi mengenai tugas nya disekolah. Misalnya kita ingin browsing internet dimana saja dan kapan saja yang ingin kita ketahui. Dengan demikian dari internet kita bias menambah ilmu pengetahuan.
2.          Memperluas Jaringan Persahabatan
Gadget dapat memperluas jaringan persahabatan karena dapat dengan mudah dan cepat bergabung ke sosial media. Jadi, kita dapat dengan mudah untuk berbagi bersama teman kita.
3.          Mempermudah Komunikasi.
Gadget merupakan salah satu alat yang memiliki tekonologi yang canggih. Jadi semua orang dapat dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain dari seluruh penjuru dunia.
4.          Melatih kreativitas anak.
Kemajuan teknologi telah menciptakan beragam permainan yang kreatif dan menantang. Banyak anak yang termasuk kategori ADHD diuntungkan oleh permainan ini oleh karena tingkat kreativitas dan tantangan yang tinggi.

Dampak Negatif
1.        Bahaya radiasi
Pengaruh gadget buat anak yang pertama yaitu bahaya paparan radiasi. Menurut sebuah riset, paparan radiasi dari gadget sangat berbahaya bagi kesehatan dan perkembangan anak. Radiasi gadget sangat beresiko mengakibatkan gangguan terhadap perkembangan otak dan sistem imun anak.
2.        Menyebabkan kecanduan
Pengaruh gadget terhadap anak yang selanjutnya yaitu menyebabkan kecanduan dan ketergantungan. Hal ini tentunya akan berdampak negatif terhadap perkembangan fisik dan motorik anak. Ketika si kecil asik bermain gadget biasanya lupa makan sehingga asupan nutrisi untuk menunjang pertumbuhannya terganggu. Selain itu, kecanduan gadget juga akan berdampak terhadap kepribadian anak sehingga lebih cenderung memiliki sifat tertutup dan tidak bersosialisasi.
3.          Kurang empati
Teknologi membuat anak jarang mengolah perasaan nya terhadap kesulitan orang lain. Hal ini tentu akan melahirkan sebuah pribadi yang angkuh dan sombong.
4.          Perilaku konsumtif
Teknologi yang berkembang pesat dengan tambahan fitur-fitur  yang semakin canggih, membuat anak selalu menuntut pembaruan gadget dan tidak pernah puas akan gadget yang di milikinya.

Cara mengatasi dampak negatif dari pengaruh Gadget
Sosok yang paling berpengaruh dalam  mencegah maupun mengatasi dampak negatif dari gadget adalah orang tua. Maka orang tua memiliki peran besar dalam membimbing dan mencegah agar teknologi gadget tidak berdampak negatif bagi anak. Cara-cara yang harus dilakukan oleh orang tua ialah sebagai berikut :
1.      Pilih sesuai usia
Dilihat dari tahapan perkembangan dan usia anak, pengenalan dan penggunaan gadget bisa dibagi ke beberapa tahap usia. Untuk anak usia di bawah 5 tahun, Pemberian gadget sebaiknya hanya seputar pengenalan warna, bentuk, dan suara. Artinya, jangan terlalu banyak memberikan kesempatan bermain gadget pada anak di bawah 5 tahun. Terlebih di usia ini, yang utama bukan gadget -nya, tapi fungsi orangtua. Pasalnya gadget hanya sebagai salah satu sarana untuk mengedukasi anak.
Ditinjau dari sisi neurofisiologis, otak anak berusia di bawah 5 tahun masih dalam taraf perkembangan. Perkembangan otak anak akan lebih optimal jika anak diberi rangsangan sensorik secara langsung. Misalnya, meraba benda, mendengar suara, berinteraksi dengan orang, dan sebagainya. Jika anak usia di bawah 5 tahun menggunakan gadget  secara berkelanjutan, apalagi tidak didampingi orangtua, akibatnya anak hanya fokus ke gadget dan kurang berinteraksi dengan dunia luar.
Yang berikutnya, otak bagian depan adalah bagian yang berfungsi memberi perintah dan menggerakkan anggota tubuh lainnya. Di bagian otak belakang, ada yang namanya penggerak. Di bagian ini, terdapat hormon endorfin yang mengatur pusat kesenangan dan kenyamanan. Pada saat bermain gadget, anak akan merasakan kesenangan, sehingga memicu meningkatnya hormon endorfin. kecanduan berhubungan dengan ini jika dilakukan dalam jangka waktu lama dan kontinyu . Akibatnya, ke depannya, anak akan mencari kesenangan dengan jalan bermain gadget, karena memang sudah terpola sejak awal perkembangannya.
Dari aspek interaksi sosial, perkembangan anak-anak usia di bawah 5 tahun sebaiknya memang lebih ke arah sensor-motorik. Yaitu, anak harus bebas bergerak, berlari, meraih sesuatu, merasakan kasar-halus. Memang di gadget juga ada pengenalan warna atau games di mana orang melompat. Namun, kemampuan anak untuk berinteraksi secara langsung dengan objek nyata di dunia luar tidak diperoleh anak.
2.      Batasi waktu
Anak usia di bawah 5 tahun, boleh-boleh saja diberi gadget. Tapi harus diperhatikan durasi pemakaiannya. Misalnya, boleh bermain tapi hanya setengah jam dan hanya pada saat senggang. Contohnya, kenalkan gadget seminggu sekali, misalnya hari Sabtu atau Minggu. Lewat dari itu, ia harus tetap berinteraksi dengan orang lain. Aplikasi yang boleh dibuka pun sebaiknya aplikasi yang lebih ke fitur pengenalan warna, bentuk, dan suara.
Sejalan pertambahan usia, ketika anak masuk usia pra remaja, orangtua bisa memberi kebebasan yang lebih, karena anak usia ini juga perlu gadget untuk fungsi jaringan sosial mereka. Di atas usia 5 tahun (mulai 6 tahun sampai usia 10 tahun) orangtua bisa memperbanyak waktu anak bergaul dengan gadget. Di usia ini, anak sudah harus menggali informasi dari lingkungan. Jadi, kalau tadinya cuma seminggu sekali selama setengah jam dengan supervisi dari orangtua, kini setiap Sabtu dan Minggu selama dua jam. Boleh main games  atau browsing mencari informasi. Intinya, kalau orang tua sudah menerapkan kedisiplinan sedari awal, maka di usia pra remaja, anak akan bisa menggunakan gadget  secara bertanggungjawab dan tidak kecanduan gadget.
3.      Hindarkan kecanduan
Kasus kecanduan atau penyalahgunaan gadget biasanya terjadi karena orangtua tidak mengontrol penggunaannya saat anak masih kecil. Maka sampai remaja pun ia akan melakukan cara pembelajaran yang sama. Akan susah mengubah karena kebiasaan ini sudah terbentuk. Ini sebabnya, orang tua harus ketat menerapkan aturan ke anak, tanpa harus bersikap otoriter. Dan jangan lupa, orangtua harus menerapkan reward and punishment. Kalau ini berhasil dijalankan, maka anak akan bisa melakukannya secara bertanggungjawab dan terhindar dari kecanduan.
4.      Beradaptasi dengan zaman
Salah satu dampak positif gadget adalah akan membantu perkembangan fungsi adaptif seorang anak. Artinya kemampuan seseorang untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sekitar dan perkembangan zaman. Jika perkembangan zaman sekarang muncul gadget, maka anak pun harus tahu cara menggunakannya.
Artinya fungsi adaptif anak berkembang. seorang anak harus tahu fungsi gadget dan harus bisa menggunakannya karena salah satu fungsi adaptif manusia zaman sekarang adalah harus mampu mengikuti perkembangan teknologi. Sebaliknya, anak yang tidak bisa mengikuti perkembangan  teknologi bisa dikatakan fungsi adaptifnya tidak berkembang secara normal.
Namun, fungsi adaptif juga harus menyesuaikan dengan budaya dan tempat seseorang tinggal. Kalau anak tinggal di sebuah desa dimana gadget adalah barang langka, maka wajar kalau anak tidak tahu dan tidak kenal yang namanya gadget.



Dampak Positif dan Negatif Homeschooling bagi Anak


Dampak Positif dan Negatif  Homeschooling bagi Anak:

  • Dampak Positif
    • Kebebasan dalam belajar artinya anak tidak merasa tertekan dengan tuntutan sistem pembelajaran di sekolah formal. Anak dapat belajar sesuai dengan keinginan dia sendiri dan anak pun tidak selalu dibebani dengan berbagai tugas.
    • Kebebasan emosional. Tekanan, kompetisi dan kebosanan merupakan bagian yang paling khas dari sekolah. Dengan HomeSchooling, pengaruh negatif ini dapat di hindari.
    • Hubungan Keluarga semakin dekat. HomeSchooling berperan penting dalam meningkatkan hubungan antar semua anggota keluarga.
    • Istirahat cukup. Tidur sangat penting bagi kesehatan emosional dan fisik anak, terutama anak berusia belasan tahun. Rutinitas bangun pagi pada sekolah umum terkadang membuat mereka merasa letih. Namun dengan HomeSchooling, mereka bisa mengatur jadwal tidur dengan baik.
    • Meminimalisir pengaruh lingkungan luar terhadap diri siswa. Home Schooling mengurangi kontak sosial dengan lingkungan luar yang dapat memberikan pengaruh buruk seperti narkoba, tawuran, maupun pergaulan bebas.
  • Dampak Negatif
    • Siswa menjadi kurang pergaulan (kuper), merasa individualis serta terkadang merasa paling hebat karena tidak merasakan kompetisi meraih peringkat terbaik, sehingga tidak bisa mengukur kekurangan diri sendiri dibandingkan siswa yang lain.
    • Seluruh rutinitas dilaksanakan di rumah tanpa ada perubahan suasana belajar, terkadang membuat kejiwaan siswa kurang baik. Keadaan ini menjadikan siswa kurang mandiri dan kurang realistis menghadapi masalah sosial yang timbul.
    • Tidak ada kompetisi atau persaingan. Anak tidak bisa membandingkan sampai dimana kemampuannya dibanding anak-anak lain seusia dia. Selain itu anak belum tentu merasa cocok jika diajar oleh orang tua sendiri, apalagi jika memang mereka tidak punya pengalaman mengajar sebelumnya.
    • Lingkup interaksi dengan teman sebaya dari berbagai status sosial terbatas. Padahal hal inilah yang dapat memberikan pengalaman berharga untuk belajar hidup di masyarakat. Seharusnya pada masa kanak-kanak hubungan dengan teman sebaya adalah suatu tahap dan masa  yang sangat penting.

Hard Skill atau Soft Skill?

Persaingan untuk mendapatkan pekerjaan sekarang ini sangatlah ketat diakibatkan banyaknya orang yang melamar pekerjaan ataupun sedikitnya daya tampung pekerja.  adalah salah satu perguruan tinggi yang ada di Sumatera Utara yang meluluskan mahasiswa lebih kurang empat ribu orang setiap tahunnya. Sudah tentu lulusan tersebut akan bekerja dan akan bersaing dengan lulusan  itu sendiri ataupun lulusan perguruan tinggi lainnya. Dengan demikian mahasiswa  harus mempersiapkan dirinya untuk bersaing sebelum dan setelah dinyatakan lulus dalam mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Mengembangkan hard skill adalah jawaban utama didalam keberhasilan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Namun demikian tidaklah cukup hanya kemampuan hard skill saja, tetapi harus diimbangi dengan kemampuan soft skill dalam menghadapi berbagai tantangan saat melakukan pekerjaan tersebut. Menurut Admin dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja, tetapi juga piawai dalam aspek soft skillnya. Ditambahkan juga, bahwa dunia pendidikanpun mengungkapkan dengan berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Dari penjelasan di atas, dapat kita lihat bahwa pentingnya hard skill dan soft skill bagi setiap orang yang ingin mendapatkan ataupun saat melakukan pekerjaan. Dengan demikian dituntut bahwa setiap mahasiswa harus meningkatkan hard skill dan soft skillnya dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja pada masa studinya.

HARD SKILL
Proses pembelajaran di perguruan tinggi lebih menitik beratkan pada aspek kognitif. Hal ini dapat dilihat pada prestasi mahasiswa yang ditunjukkan oleh indeks prestasi (IP). Indeks prestasi dibuat berdasarkan hasil penilaian dari evaluasi dosen terhadap mahasiswa dalam proses pembelajaran. Kemampuan mahasiswa yang ditunjukkan berdasarkan indeks prestasi seperti inilah yang sering disebut sebagai kemampuan hard skill.

SOFT SKILL
Pengertian soft skill didefinisikan sebagai keterampilan lunak (soft) yang digunakan dalam berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain, atau dikatakan sebagai interpersonal skills. Kemampuan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skills) dan kemampuan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skills) serta kemampuan tambahan seseorang dalam kepercayaan/kepedulian baik terhadap penciptanya maupun orang lain (ekstrapersonal skills).
Beberapa keterampilan yang dimasukkan dalam kategori soft skill adalah: etika/propesional, kepemimpinan, kreativitas, kerjasama, inisiatif, facilitating kelompok maupun masyarakat, komunikasi, berpikir kritis, dan problem solving. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh negara-negara Inggris, Amerika dan Kanada, ada 23 atribut softskills yang dominan di lapangan kerja yang dimuat oleh Tarmidi dalam websitenya. Ke 23 atribut tersebut diurut berdasarkan prioritas kepentingan di dunia kerja, yaitu: (1) inisiatif, (2) etika/integritas, (3) berfikir kritis, (4). kemauan belajar, (5) komitmen, (6) motivasi, (7) bersemangat, (8) dapat diandalkan, (9) komunikasi lisan, (10) kreatif, (11) kemampuan analitis, (12) dapat mengatasi stres, (13) manajemen diri, (14) menyelesaikan persoalan, (15) dapat meringkas, (16) berkoperasi, (17) fleksibel, (18) kerja dalam tim, (19) mandiri, (20) mendengarkan, (21) tangguh,  (22) berargumentasi logis, (23) manajemen waktu.

PERANAN HARD SKILL DAN SOFT SKILL
Hard skill sangatlah penting untuk dikembangkan, karena kemampuan seseorang untuk melakukan sebuah pekerjaan dengan baik dan benar adalah tergantung bagaimana hard skill yang dia miliki. Tidak mungkin seseorang bisa membuat sebuah alat yang berguna jika dia tidak mengetahui cara pembuatan, tujuan, dan kegunaannya alat tersebut. ataupun tidak mungkin seseorang mampu memperbaiki sesuatu jika dia tidak tuhu apa yang dia perbaiki.
Sebelum melamar sebuah pekerjaanpun seharusnya lulusan perrguruan tinggi (mahasiswa) harus memperhatikan pekerjaan yang akan diterimanya dengan kemampuannya. Membandingkan kemampuan dengan pekerjaan yang akan dikerjakan adalah hal yang baik. Untuk itu mahasiswa perlu mempersiapkan dirinya dengan mengembangkan hard skill sebagai dasar untuk melamar pekerjaan dan diimbangi dengan soft skill sebagai landasan untuk melakukan pekerjaan. Karena hampir semua perusahaan dewasa ini mensyaratkan adanya kombinasi yang sesuai antara hard skill dan soft skill, apapun posisi karyawannya. Bagi perekrutan karyawan bagi perusahaan pendekatan hard skill saja kini sudah ditinggalkan. Percuma jika hard skill baik, tetapi soft skillnya buruk. Hal ini bisa dilihat pada iklan-iklan lowongan kerja berbagai perusahaan yang juga mensyaratkan kemampuan soft skill, seperi team work, kemampuan komunikasi, dan interpersonal relationship, dalam job requirementnya. Perusahaan cenderung memilih calon yang memiliki kepribadian lebih baik meskipun hard skillnya lebih rendah. Alasannya adalah memberikan pelatihan ketrampilan jauh lebih mudah daripada pembentukan karakter Hal tersebut menunjukkan bahwa hard skill merupakan faktor penting dalam bekerja, namun keberhasilan seseorang dalam bekerja biasanya lebih ditentukan oleh soft skillnya yang baik.
Dunia kerja saat ini membutuhkan sumber daya yang terampil, sebagai seorang  mahasiswa dituntut untuk mempunyai keahlian hard skill yang tinggi, Hard skill merupakan keahlian bagaimana nilai akhir kuliah mahasiswa/nilai akademis (IPK) mahasiswa ini sebagai persyaratan untuk memenuhi admnistrasi dalam melamar pada suatu perusahaan, selain harus memiliki IPK yang tinggi di era persaingan yang ketat ini juga kita dituntut memiliki soft skill yaitu ketrampilan seseorang dalam berhubungan dengan orang lain (interpersonal skill) ketrampilan dalam mengatur dirinya sendiri (intrapersonal skill), Baik hard skills maupun soft skills merupakan prasyarat kesuksesan seorang sarjana dalam menempuh kehidupan setelah selesai pendidikannya. Seperti yang dijelaskan di atas bahwa hard skills ditekankan pada aspek kognitif dan keahlian khusus menurut disiplin keilmuan tertentu, sedangkan softskills merupakan perilaku personal dan interpersonal skill yang diperlukan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan kinerja seorang manusia. Soft skill memiliki karakteristik sebagai berikut:
·         Bersifat generik, dalam arti digunakan dalam berbagai penyelesaian tugas yang berbeda.
·         Dapat ditransfer dan diterapkan dalam berbagai aktivitas pelaksanaan tugas, disebut juga sebagai keterampilan hidup (life skills).
·         Merupakan keterampilan atau atribut yang terdapat dalam aktivitas seperti pemecahan masalah, komunikasi, pemanfaatan teknologi, dan bekerja dalam kelompok.
·         Dapat dipromosikan sebagai keterampilan yang memberi kontribusi dalam ‘pembelajaran seumur hidup’ (‘life long learning’).
·         Dapat dimiliki dan digunakan oleh pengusaha dan organisasi pemerintah.
·         Dapat ditransfer dalam berbagai konteks yang berbeda oleh orang-orang yang memiliki latar belakang disiplin ilmu, profesi dan jabatan yang berbeda-beda.

BEBERAPA UPAYA YANG DILAKUKAN UNTUK MENGEMBANGKAN HARD SKILL DAN SOFT SKILL
Dalam mengembangkan hard skill seorang peserta didik (mahasiswa) sering diadakan perlombaan-perlombaan. Selain itu, tidak jarang pendidik memberikan hadiah sebagai penghargaan kepada anak didiknya yang memiliki prestasi baik. Bahkan pertandingan antar mahasiswa dalam satu negara atapun antar negera sering dibuat sesuai dengan bidang ilmu yang dimiliki seseorang. Hal ini semata-mata bertujuan untuk mengembangkan hard skill. Selain hard skill, seserorang tidak terlepas dari soft skill, karena seseorang tidak terlepas dari dirinya sendiri dan orang lain. Maksudanya adalah seseorang punya akal, hati nurani yang harus dikembangkan untuk mampu mengatur dirinya sendiri dan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Umumnya kelemahan dibidang soft skill berupa karakter yang melekat pada diri seseorang. Butuh usaha keras untuk mengubahnya. Namun demikian soft skill bukan sesuatu yang stagnan. Kemampuan ini bisa diasah dan ditingkatkan seiring dengan pengalaman kerja. Ada banyak cara meningkatkan soft skill. Salah satunya melalui learning by doing. Selain itu soft skill juga bisa diasah dan ditingkatkan dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan maupun seminar-seminar manajemen. Meskipun, satu cara ampuh untuk meningkatkan soft skill adalah dengan berinteraksi dan melakukan aktivitas dengan orang lain. Mengikuti organisasi adalah salah satu cara untuk berinteraksi dengan orang lain.
Dalam rangka mengembangkan atribut soft skill peserta didik di perguruan tinggi, diperlukan evaluasi diri dari setiap mahasiswa tentang kekuatan mana yang dimiliki saat ini, sekaligus kelemahannya. Para mahasiswa diberi lembar kuesioner yang berisi atribut soft skill. Lalu mengisinya dengan memberi tanda mana yang sudah merasa cukup mereka miliki dan mana yang masih perlu dikembangkan. Atribut yang paling banyak muncul di daftar sehingga terlihat atribut mana yang memiliki modus tertinggi untuk dikembangkan. Lalu program studi di mana mahasiswa itu berada meninjau visi program studinya, dan berupaya untuk memadukan antara harapan mahasiswa, harapan lembaga dan sumberdaya yang dimiliki. Dengan demikian akan terpilih beberapa atribut yang perlu dan penting dikembangkan untuk para mahasiswanya.

Pengembangan soft skill di perguruan tinggi juga dapat dilakukan melalui kegiatan proses pembelajaran dan juga kegiatan kemahasiswaan dalam kegiatan ekstra kurikuler atau ko-kurikuler. Hal yang terpenting, softskill ini bukan bahan hafalan melainkan dipraktekkan oleh individu yang belajar atau yang ingin mengembangkannya. Pada saat mahasiswa ingin mengembangkan minat dan bakatnya di dalam bidang olah raga umpamanya, acapkali pembimbing kegiatan olah raga senantiasa berpusat pada teknik bagaimana memenangkan pertandingan yang akan dilakukan oleh mahasiswanya.

Jangan Paksa Anak Belajar Calistung

Semua orangtua pasti ingin menginginkan anaknya pintar dan berprestas dalam pendidikan, orangtua senang jika buah hatinya dapat membaca, menulis, dan berhitung (Calistung). Tidak heran, banyak orangtua yang menyekolahkan dan memaksa anak harus bisa calistung saat duduk di pra sekolah. Apalagi beberapa sekolah dasar (SD) mensyaratkan anak yang akan masuk SD harus bisa membaca, namun ternyata hal itu tak baik bagi kondisi anak.
Menurut perempuan kelahiran 2 Maret 1971 ini, mendorong anak agar belajar terutama belajar calistung akan mengganggu perkembangannya, bahkan orangtua bisa melewatka masa perkembangan anak yang penuh warna dengan bermain.
Tahapan perkembangan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) bukanlah keterampilan yang dapat begitu saja dikuasai anak. Terdapat keterampilan-keterampilan pendahuluan yang harus dimiliki anak untuk akhirnya bisa membaca, menulis, dan berhitung sebagai modal menapaki pendidikan setinggi-tingginya.
Pengajar di Taman Bermain Pelangi, Yuwanita Eka Putri, mengatakan, keterampilan pendahuluan diberikan pada masa golden age. Yakni usia 0–6 tahun. Pada masa ini, sebetulnya otak anak sedang mudah-mudahnya menyerap informasi yang dilihat dan dipelajari.
Ia mengatakan, untuk usia 2–3 tahun, anak bisa mengikuti kelas toddler. Di kelas toddler 2 tahun, anak diajarkan bagaimana cara bersosialisasi, bermain, dan memang konsepnya belum untuk belajar. Sedangkan kelas berikutnya, yaitu usia 3 tahun, anak sudah diperkenalkan warna, angka 1–5, bentuk-bentuk datar, segitiga, dan sebagainya.
Kemudian ketika anak 4 tahun, ia mulai masuk TK A serta masih diperkenalkan nama kendaraan transportasi, nama, bagian tubuh, sekolah, kesehatan, pantai, dan laut. Setahun kemudian, di TK B, metode belajarnya juga tidak jauh dengan TK A. Namun, dengan kesulitan yang berbeda.
Jadi anak-anak usia 0–6 tahun ini diajarkan bermain dengan teman-temannya untuk bersosialisasi supaya anak tidak jadi pemalu, dadi ketika bertemu teman, anak menjadi riang dan tidak diam, lalu menangis. Jika masa keemasan anak ini sudah dilewati, barulah anak masuk ke tahapan perkembangan kemampuan calistung, yaitu :

1.Membaca
Melihat gambar adalah bentuk membaca yang paling sederhana, sejak usia 3–5 tahun pun, anak diharapkan sudah memiliki ketertarikan untuk membaca gambar, simbol, dan logo yang ada di sekitarnya. Karena itu, salah satunya anak membutuhkan pencahayaan yang tinggi pada buku bergambar.
Pada usia 4–6 tahun, anak baru mulai diharapkan mampu membaca gambar, simbol, dan logo. Misalnya melihat gambar Colonel Anderson ia membaca Kentucky atau melihat logo supermarket ia sudah bisa mengenalinya, membaca dengan pola diharapkan mulai dikuasai anak pada usia 5–7 tahun.
Selain mengenali bentuk dan pola, anak juga harus bisa memegang buku dengan baik serta mampu membalikkan dari kiri ke kanan. Keterampilan ini sangat berhubungan erat dengan perkembangan keterampilan motorik anak.

2.Menulis
Jauh sebelum anak bisa memegang pensil dengan baik, ia perlu belajar menjumput (memegang benda dengan telunjuk dan ibu jari). Ia perlu mengetahui bahwa tulisan itu memiliki arti, kembali lagi bisa dikembangkan dengan memperlihatkan berbagai buku.

3.Berhitung
Anak perlu memahami konsep berhitung bahwa satu untuk satu benda (one-to-one correspondence), jadi sebelum mengajarkan menghitung satu-dua-tiga, ajarkan anak untuk membagikan satu benda untuk satu orang atau satu benda ke dalam satu lubang (bisa memakai congklak). Seperti disebutkan di atas, mengenali simbol termasuk angka baru diharapkan setelah anak berusia 4–6 tahun.
Sementara untuk les calistung, sebaiknya jangan diberikan kepada anak di bawah usia 6 tahun. Karena pada saat anak berusia 6–7 tahun, ia baru mencapai kematangan sensorik dan motorik. Pada waktu itulah, anak benar-benar siap untuk menulis dan membaca.
Pada akhirnya semua anak pasti bisa membaca dan menulis, hanya waktunya yang mungkin berbeda-beda. Karena perkembangan tiap anak berbeda, ada yang bisa membaca pada usia 4 tahun atau ketika usia 5 tahun. Jadi jangan khawatir bila anak lain sudah menguasai keterampilan tertentu, sementara anak Anda belum.
Lihat kisaran usianya saja, jangan memaksa belajar membaca terlalu dini. Apabila dipaksakan untuk membaca dan menulis pada waktu belum siap, anak akan memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan serta muncul penolakan. Namun, saran ini tidak berlaku untuk anak-anak yang memang memiliki ketertarikan dalam membaca dan menulis yang sangat tinggi.
Apabila anak sudah sangat tertarik, bisa mulai mengajarkan atau memasukkan ke tempat les calistung. Sebelum ikut les, perhatikan cara pengajarannya. Jangan sampai setelah les, minat membaca, menulis, dan berhitung anak malah menurun.

Peranan Keluarga dalam Membentuk Karakter Anak

Sebagai sistem sosial terkecil, keluarga memiliki pengaruh luar biasa dalam hal pembentukan karakter suatu individu. Keluarga merupakan payung kehidupan bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat ternyaman bagi seorang anak. Beberapa fungsi keluarga selain sebagai tempat berlindung, diantaranya :
a)      Mempersiapkan anak-anak bertingkah laku sesuai dengan niai-nilai dan norma-norma aturan-aturan dalam masyarakat dimana keluarga tersebut berada (sosialisasi).
b)      Mengusahakan tersekenggaranya kebutuhan ekonomi rumah tangga (ekonomi), sehingga keluarga sering disebut unit produksi.
c)      Melindungi anggota keluarga yang tidak produksi lagi (jompo).
d)     Meneruskan keturunan (reproduksi).
Menurut Kingslet Davis dalam Murdianto (2003) menyebutkan bahwa fungsi keluarga ialah:
a)   Reproduction, yaitu menggantikan apa yang telah habis atau hilang untuk kelestarian sistem         sosial yang bersangkutan.
b) Maintenance, yaitu perawatan dan pengasuhan anak hingga mereka mampu berdiri sendiri.
c)      Placement, memberi posisi sosial kepada setiap anggotanya, baik itu posisi sebagai kepala rumah tangga maupun anggota rumah tangga, atau pun posisi-posisi lainnya.
d) Sosialization, pendidikan serta pewarisan nilai-nilai sosial sehingga anak-anak kemudian dapat diterima dengan wajar sebagai anggota masyarakat.
e)   Economics, mencukupi kebutuhan akan barang dan jasa dengan jalan produksi, distribusi, dan konsumsi yang dilakukan di antara anggota keluarga.
f)       Care of the ages, perawatan bagi anggota keluarga yang telah lanjut usianya.
g) Political center, memberikan posisi politik dalam masyarakat tempat tinggal.
h)         Physical protection, memberikan perlindungan fisik terutama berupa sandang, pangan, dan perumahan bagi anggotanya.
Bila seorang anak dibesarkan pada keluarga pembunuh, maka ia akan menjadi pembunuh. Bila seorang anak dibesarkan melalui cara-cara kasar, maka ia akan menjadi pemberontak. Akan tetapi, bila seorang anak dibesarkan pada keluarga yang penuh cinta kasih sayang, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi cemerlang yang memilki budi pekerti luhur. Keluarga sebagai tempat bernaung, merupakan wadah penempaan karakter individu.
Pada masa sekarang ini, pengaruh keluarga mulai melemah karena terjadi perubahan sosial, politik, dan budaya. Keadaan ini memiliki andil yang besar terhadap terbebasnya anak dari kekuasaan orang tua. Keluarga telah kehilangan fungsinya dalam pendidikan. Tidak seperti fungsi keluarga pada masa lalu yang merupakan kesatuan produktif sekaligus konsumtif. Ketika kebijakan ekonomi pada zaman modern sekarang ini mendasarkan pada aturan pembagian kerja yang terspesialisasi secara lebih ketat, maka sebagian tanggung jawab keluarga beralih kepada orang-orang yang menggeluti profesi tertentu.

Uraian tersebut cukup menjelaskan apa arti keluarga yang sesungguhnya. Keluarga bukan hanya wadah untuk tempat berkumpulnya ayah, ibu, dan anak. Lebih dari itu, keluarga merupakan wahana awal pembentukan moral serta penempaan karakter manusia. Berhasil atau tidaknya seorang anak dalam menjalani hidup bergantung pada berhasil atau tidaknya peran keluarga dalam menanamkan ajaran moral kehidupan. Keluarga lebih dari sekedar pelestarian tradisi, kelurga bukan hanya menyangkut hubungan orang tua dengan anak, keluarga merupakan wadah mencurahkan segala inspirasi. Keluarga menjadi tempat pencurahan segala keluh kesah. Keluarga merupakan suatu jalinan cinta kasih yang tidak akan pernah terputus.

Tri Dharma Perguruan Tinggi


Secara bahasa, kata “Tri” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta. “Tri” artinya tiga, sedangkan “Dharma” bermakna kewajiban. Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah hal-hal dasar yang harus ada saat menjalani aktivitas akademik. Dasar dan tanggung jawab tersebut dilakukan secara terus-menerus dan dikembangkan secara beriringan.
Adanya Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan wujud dari keseriusan perguruan tinggi untuk menyajikan pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, Tri Dharma Perguruan Tinggi sepatutnya telah menjadi budaya dan kesadaran.
Tanggung jawab Tri Dharma Perguruan tinggi itu sendiri sebenarnya diberikan kepada seluruh civitas akademik terutama dosen dan mahasiswa. Dosen sebagai pengajar, pembimbing sekaligus pendamping, sedangkan mahasiswa sebagai anak didik yang menuntut ilmu. Dua elemen ini akan terus berkaitan mengingat tak bisa disebut dosen tanpa adanya mahasiswa, begitu sebaliknya.
1.Pendidikan dan Pengajaran.
Pendidikan dan pengajaran adalah point pertama dan utama dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan danpengajaran memiliki peranan yang sangat penting dalam suatu proses pembelajaran.
Demi mencapai tujuan dari Tri Dharma Perguruan tinggi tersebut, mahasiswa dituntut aktif untuk mengeksplor, mencari dan menggali sendiri terkait keilmuan yang digeluti.  Dengan demikian, mahasiswa sadar betul apa yang dilakukannya dan dalam rangka meraih keilmuan apa. Semakin spesifik keilmuan seseorang, maka semakin matang dan sempurna.
Saat  berlangsungnya pendidikan dan pengajaran, pengajaran tidak hanya bertumpu pada diri dosen atau yang biasa disebut pendidikan komunikasi satu arah. Pendidikan yang berlangsung seharusnya meliputi komunikasi dua arah yang melibatkan keaktifan antara dosen dan mahasiswa.
Konkritnya, dosen bukan hanya sebatas mentransfer ilmu dari gelas kosong menjadi berisi. Lebih dari itu, dosen pendidikan dituntut untuk merangsang daya pikir mahasiswa sehingga ilmu akan berkembang, bukan stagnan berjalan di tempat.
Dari pengertian pendidikan diatas maka proses pembelajaran yang ada di perguruan tinggi memiliki peranan penting untuk mencipkan bibit – bibit unggul. Pendidikan dan pengajaran yang baik akan menghasilkan bibit unggul dari suatu perguruan tinggi yang akan mampu membawa bangsa ini kearah bangsa yang lebih maju . lulusan – lulusan yang berkualitas dari perguruan tinggi akan menjadi penerus bangsa yang membawa Indonesia kearah yang lebih maju.Sesuai dengan pembukaan undang – udang dasar 1945 yang berbunyi, mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka pendidikan dan pengajaran harus menjadi pokok dan sumber utama dalam mencapaitujuan dari perguruan tinggi.
2.Penelitian dan Pengembangan 
Tujuan dari point kedua ini mahasiswa dalam menuntut ilmu diharapkan tidak hanya sebatas tahu, namun mengerti dan mampu Peneitian dan pengembangan juga sangatlah penting bagi kemajuan perguruan tinggi,kesejahteraan masyarakat serta kemajuan bangsa dan negara. Dari penelitian dan pengembangan maka mahasiswa mampu mengembangkan ilmu dan teknologi . pada penelitian dan pengembangan mahasiswa harus lebih cerdas, kritis dan kreatif dalam mejalankan perannya sebagai agent of change. Mahasiswa harus mampu memanfaatkan penelitian dan pengembangan ini dalam suatu proses pembelajaran untuk memporoleh suatu perubahan – perubahan yang akan membawa Indonesia kearah yang lebih maju dan terdepan.
3.Pengabdian Kepada Masyarakat 
Baik dosen maupun mahasiswa, semuanya  dituntut untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat. Pengabdian tersebut dapat berupa penyebaran ilmu ke tempat peribadatan, acara warga maupun bentuk-bentuk tulisan di media massa. Demikian juga mahasiswa.
Pengabdian inilah yang menuntut para akademisi untuk mempraktikkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari di kampus. Sebab, ilmu tanpa dipraktikkan seperti tong konsong berbunyi nyaring.
Oleh sebab itu, seorang akademisi benar-benar harus menjadi teladan bagi para akademisi lainnya terkhusus kepada masyarakat yang notabene adalah warga yang bias hidup bersama sehari-hari.
Di zaman yang serba modern ini, para akademisi sangat leluasa untuk melakukan dan melaksanakan dengan sepenuh hati segala bentuk pengabdian sesuai Tri Dharma Perguruan Tingi. Bila Anda seorang akademisi di bidang media, Anda dapat turut menjadi rantai kebaikan dengan menyebarkan konten-konten yang berkualitas.
Ya, hal tersebut hanyalah contoh kecilnya saja. Jadi, mengabdi jangan hanya diartikan sempit turut kerja bakti di kampung halaman. Anda bisa mengeksplore keilmuan Anda dengan aksi-aksi yang banyak bermanfaat bagi orang banyak.
Dalam hal pembelajaran, mahasiswa yang merantau perlu memperteguh diri bahwa menutut ilmu di perguruan tinggi harus dilakukan secara maksimal. Bila sudah tiba waktunya kembali ke kampung halaman, Mahasiswa mampu mengabdikan dirinya terjun ke masyarakat membangun desa. Adapun fungsi mahasiswa lebih mendalam dapat Anda baca di artikel sebelumnya berjudul fungsi mahasiswa sebagai Aktivis Pemberadab.