Indonesia memiliki 1.095 jam pelajaran per tahun.
Bandingkan dengan Korea Selatan yang mempunyai 903 jam pelajaran per tahun dan
Jepang yang memberlakukan 712 jam pelajaran per tahun berada di peringkat atas
dunia. Siswa Indonesia bagus mengerjakan soal yang sifatnya hafalan. Namun,
dalam mengaplikasikan dan menalar masih rendah. Pembelajar di sekolah, yang
dimulai dari ulangan harian dan ujian sekolah, tidak mengasah nalar. Ujian
Nasional juga terlalu banyak ditempeli beban. Pembelajaran lewat mata pelajaran
bukan untuk menguasai pengetahuan melainkan membangun kompetensi.
Indonesia
menempatkan urutan bawah. Skor Matematika 397, menempatkan Indonesia di nomor
45 dari 50 negara. Sedangkan dibidang Sains dengan skor 397, Indonesia di
urutan ke 45 dari 48 negara. Kemampuan siswa sebenernya bisa dioptimalkan jika
sifatnya rutin, dibiasakan, atau dekat dengan konteks sehari-hari. Jika sudah
dituntut interpretasi dari beragama sumber informasi, siswa memiliki kesulitan.
Akibatnya, siswa tidak bisa membuat kesimpulan sendiri. Dari hasil Indonesia
National Assesment Programme (Penilaian Mutu Tingkat Kompetensi), tahun ini
diujikan untuk siswa kelas V SD, menunjukan lemahnya kemampuan berpikir tingkat
tinggi siswa. Seharusnya siswa harus dibiasakan berlatih soal-soal non rutin,
belajar dengan alat-alat peraga, lalu guru sebagai pendidik harus mengembangkan
metode pembelajaran dan penilaian nalar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar