Semua orangtua pasti ingin
menginginkan anaknya pintar dan berprestas dalam pendidikan, orangtua senang
jika buah hatinya dapat membaca, menulis, dan berhitung (Calistung). Tidak
heran, banyak orangtua yang menyekolahkan dan memaksa anak harus bisa calistung
saat duduk di pra sekolah. Apalagi beberapa sekolah dasar (SD) mensyaratkan
anak yang akan masuk SD harus bisa membaca, namun ternyata hal itu tak baik
bagi kondisi anak.
Menurut perempuan kelahiran 2 Maret
1971 ini, mendorong anak agar belajar terutama belajar calistung akan
mengganggu perkembangannya, bahkan orangtua bisa melewatka masa perkembangan
anak yang penuh warna dengan bermain.
Tahapan perkembangan kemampuan
membaca, menulis, dan berhitung (calistung) bukanlah keterampilan yang dapat
begitu saja dikuasai anak. Terdapat keterampilan-keterampilan pendahuluan yang
harus dimiliki anak untuk akhirnya bisa membaca, menulis, dan berhitung sebagai
modal menapaki pendidikan setinggi-tingginya.
Pengajar di Taman Bermain Pelangi,
Yuwanita Eka Putri, mengatakan, keterampilan pendahuluan diberikan pada masa
golden age. Yakni usia 0–6 tahun. Pada masa ini, sebetulnya otak anak sedang
mudah-mudahnya menyerap informasi yang dilihat dan dipelajari.
Ia mengatakan, untuk usia 2–3 tahun,
anak bisa mengikuti kelas toddler. Di kelas toddler 2 tahun, anak diajarkan
bagaimana cara bersosialisasi, bermain, dan memang konsepnya belum untuk
belajar. Sedangkan kelas berikutnya, yaitu usia 3 tahun, anak sudah
diperkenalkan warna, angka 1–5, bentuk-bentuk datar, segitiga, dan sebagainya.
Kemudian ketika anak 4 tahun, ia
mulai masuk TK A serta masih diperkenalkan nama kendaraan transportasi, nama,
bagian tubuh, sekolah, kesehatan, pantai, dan laut. Setahun kemudian, di TK B,
metode belajarnya juga tidak jauh dengan TK A. Namun, dengan kesulitan yang
berbeda.
Jadi anak-anak usia 0–6 tahun ini
diajarkan bermain dengan teman-temannya untuk bersosialisasi supaya anak tidak
jadi pemalu, dadi ketika bertemu teman, anak menjadi riang dan tidak diam, lalu
menangis. Jika masa keemasan anak ini sudah dilewati, barulah anak masuk ke
tahapan perkembangan kemampuan calistung, yaitu :
1.Membaca
Melihat gambar adalah bentuk membaca yang paling sederhana,
sejak usia 3–5 tahun pun, anak diharapkan sudah memiliki ketertarikan untuk
membaca gambar, simbol, dan logo yang ada di sekitarnya. Karena itu, salah
satunya anak membutuhkan pencahayaan yang tinggi pada buku bergambar.
Pada usia 4–6 tahun, anak baru mulai diharapkan mampu
membaca gambar, simbol, dan logo. Misalnya melihat gambar Colonel Anderson ia
membaca Kentucky atau melihat logo supermarket ia sudah bisa mengenalinya,
membaca dengan pola diharapkan mulai dikuasai anak pada usia 5–7 tahun.
Selain mengenali bentuk dan pola, anak juga harus bisa
memegang buku dengan baik serta mampu membalikkan dari kiri ke kanan.
Keterampilan ini sangat berhubungan erat dengan perkembangan keterampilan
motorik anak.
2.Menulis
Jauh sebelum anak bisa memegang pensil dengan baik, ia perlu
belajar menjumput (memegang benda dengan telunjuk dan ibu jari). Ia perlu
mengetahui bahwa tulisan itu memiliki arti, kembali lagi bisa dikembangkan
dengan memperlihatkan berbagai buku.
3.Berhitung
Anak perlu memahami konsep berhitung bahwa satu untuk satu
benda (one-to-one correspondence), jadi sebelum mengajarkan menghitung
satu-dua-tiga, ajarkan anak untuk membagikan satu benda untuk satu orang atau
satu benda ke dalam satu lubang (bisa memakai congklak). Seperti disebutkan di
atas, mengenali simbol termasuk angka baru diharapkan setelah anak berusia 4–6
tahun.
Sementara untuk les calistung, sebaiknya jangan diberikan
kepada anak di bawah usia 6 tahun. Karena pada saat anak berusia 6–7 tahun, ia
baru mencapai kematangan sensorik dan motorik. Pada waktu itulah, anak
benar-benar siap untuk menulis dan membaca.
Pada akhirnya semua anak pasti bisa membaca dan menulis,
hanya waktunya yang mungkin berbeda-beda. Karena perkembangan tiap anak
berbeda, ada yang bisa membaca pada usia 4 tahun atau ketika usia 5 tahun. Jadi
jangan khawatir bila anak lain sudah menguasai keterampilan tertentu, sementara
anak Anda belum.
Lihat kisaran usianya saja, jangan memaksa belajar membaca
terlalu dini. Apabila dipaksakan untuk membaca dan menulis pada waktu belum
siap, anak akan memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan serta muncul
penolakan. Namun, saran ini tidak berlaku untuk anak-anak yang memang memiliki
ketertarikan dalam membaca dan menulis yang sangat tinggi.
Apabila anak sudah sangat tertarik, bisa mulai mengajarkan
atau memasukkan ke tempat les calistung. Sebelum ikut les, perhatikan cara
pengajarannya. Jangan sampai setelah les, minat membaca, menulis, dan berhitung
anak malah menurun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar